Selamat Datang

Terima kasih Anda sudah berkenan berkunjung. Blog ini dibuat untuk membantu mahasiswa yang sedang saya bimbing menyusun proposal penelitian dan menyusun skripsi. Meskipun demikian, blog ini terbuka bagi siapa saja yang berkenan memanfaatkan. Agar bisa melakukan perbaikan, saya sangat mengharapkan Anda menyampaikan komentar di bawah tulisan yang Anda baca. Selamat berselancar, silahkan klik Daftar Isi untuk memudahkan Anda menavigasi blog ini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Rabu, 07 Maret 2012

Menulis Bab Pendahuluan Proposal Penelitian Skripsi


Bab pendahuluan dalam penelitian skripsi pada dasarnya berisi uraian mengenai masalah yang akan diteliti. Bagi mahasiswa PS IHPT, masalah yang harus diteliti tentu saja masalah hama dan penyakit tanaman. Akan sangat aneh bila mahasiswa PS IHPT meneliti masalah lain di luar masalah hama dan penyakit tanaman. Lalu apa sebenarnya masalah hama dan penyakit tanaman? Bagaimana cara merumuskan masalah hama dan penyakit tanaman? Apakah kalimat "Dengan demikian maka perlu dilakukan penelitian mengenai ...." merupakan perumusan masalah sehingga dituliskan pada setiap proposal skripsi mahasiswa PS IHPT? Dan bagaimana memulai perumusan masalah?


Merumuskan masalah dimulai dengan menentukan masalah yang akan diteliti. Masalah dalam hal ini merupakan pernyataan mengenai kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Dalam hal ini, harapan adalah sesuatu yang seharusnya terjadi, sedangkan kenyataan adalah sesuatu yang benar-benar terjadi. Seharusnya jeruk keprok soe tidak mati, tetapi mengapa banyak yang mati? OPT apa yang menyebabkan kematian tersebut? Apakah sudah ada penelitian mengenai OPT tersebut? Bila belum ada maka perlu dilakukan penelitian mengenai penyebab kematian jeruk tersebut. Bila telah ada maka OPT apa yang menyebabkan kematian jeruk tersebut? Apakah ada kemungkinan bahwa yang menyebabkan kematian jeruk buka OPT yang telah diteliti? Bila demikian maka penelitian mengenai OPT penyebab kematian jeruk masih perlu diteliti.

Perumusan masalah penelitian dilakukan dengan menggunakan gaya penulisan argumentatif. Artnya, setiap pernyataan yang ditulis perlu perlu dipertanyakan kembali dan jawabannya perlu dipertanyakan lagi. Demikian seterusnya sehingga tidak diperoleh jawaban. Pertanyaan yang tidak mendapat jawaban tersebut merupakan masalah penelitian. Dalam menulis secara argumentatif diperlukan referensi. Setiap jawaban terhadap pertanyaan perlu disertai dengan referensi. Dalam hal ini referensi yang digunakan haruslah referensi mutakhir. Referensi mutakhir bisa diperoleh dari jurnal atau dari berita koran atau media masa lainnya yang dapat diakses secara online. Referensi mutakhir tidak dapat diperoleh dari buku teks sebab buku teks yang baik ditulis dengan menggunakan jurnal sebagai rujukan. Oleh karena itu, buku teks selalu terlambat 5-10 tahun dalam hal kemutakhiran dibandingkan dengan jurnal.

Perumusan masalah penelitian biasanya dilakukan dalam urutan penyajian latar belakang masalah, pembatasan masalah, dan penyajian masalah. Latar belakang masalah berisi uraian mengenai keadaan masalah, arti penting masalah, dan sebagainya. Karena masalah yang diteliti adalah masalah HPT maka latar belakang masalah tentu saja adalah latar belakang yang berkaitan dengan HPT. Oleh karena itu, sangat tidak tepat jika latar belakang masalah HPT ditulis dengan menguraikan tanaman dan arti penting tanaman (apalagi bila arti penting tanaman hanya dilihat dari segi kandungan gizi sebagaimana yang dilakukan dalam banyak skripsi IHPT selama ini). Latar belakang proposal penelitian skripsi HPT seharusnya menguraikan keadaan HPT dan arti penting masalah yang akan diteliti.

Masalah HPT seringkali terlalu luas sehingga tidak mungkin semuanya diteliti secara tuntas. Oleh karena itu, masalah perlu dibatasi. Pembatasan masalah dilakukan dengan memberikan penjelasan terhadap bagian masalah yang tidak diteliti. Misalnya mengenai CVPD pada jeruk, masalahnya bisa berupa belum pernah dilakukan penelitian mengenai penyebaran, mengenai pengendalian, dsb. Manakah yang lebih mendesak untuk diteliti, penyebaran atau pengendalian CVPD? Apa alasan masing-masing? Penyebaran CVPD dapat melalui mata tempel atau melalui vektor. Mana yang lebih mendesak untuk diteliri, apakah penyebaran melalui mata tempel atau melalui vektor? Apa alasan masing-masing. Pembatasan masalah dilakukan sebagai satu kesatuan dengan perumusan masalah. Sebagaimana halnya perumusan masalah, pembatasan masalah juga perlu disertai dengan referensi mutakhir.

Masalah dapat dirumuskan sebagai pernyataan atau sebagai pertanyaan. Perumusan masalah sebagai pernyataan lazim dilakukan dalam penelitian bidang ilmu-ilmu alam, sedangkan sebagai pertanyaan dalam bidang ilmu-ilmu sosial. Sebagai pernyataan, masalah dapat ditulis dengan menyatakan, misalnya, "Dengan demikian maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah penularan bakteri penyebab CVPD melalui mata tempel". Sebagai pertanyaan, masalah dapat ditulis dalam bentuk pertanyaan, misalnya, "Sejauh mana mata tempel berperan dalam penularan penyebab penyakit CVPD?" Perumusan masalah biasanya dilanjutkan dengan perumusan hipotesis. Hipotesis sebenarnya merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian. Namun demikian, penulisan hipotesis biasanya lazim dilakukan dalam penelitian yang bersifat melakukan pengujian (theory testing). Penelitian yang bersifat pengujian pada umumnya dilakukan dengan metode percobaan. Penelitian yang bersifat eksploratif (penjelajahan) biasanya tidak lazim disertai dengan perumusan hipotesis.

Lalu bagaimana dengan judul? Mana yang lebih dahulu perlu ditetapkan, judul atau masalah penelian? Jawabannya jelas masalah penelitian. Bila masalah penelitian sudah jelas, membuat judul tidaklah terlalu sulit. Tapi bukan berarti juga menentukan judul dapat diabaikan. Judul yang baik harus mampu mewakili masalah yang diteliti secara singkat, tetapi jelas dan menarik. Persoalannya ada pada kata "tetapi" ini. Judul memang harus singkat sebab kalau panjang tentu saja akan menjadi alinea. Judul harus dapat mewakili masalah penelitian secara jelas dan tidak bertele-tele. Contoh judul bertele-tele adalah penggunaan kata "studi mengenai ..." sebab penelitian dengan sendirinya adalah studi sehingga kata studi tidak perlu lagi disebutkan. Judul juga harus menarik. Untuk membuat judul menarik, hidarkan penggunaan kata-kata klise seperti "pengaruh", "respon", dan kata-kata sejenis lainnya. Daripada menggunakan kata "pengaruh", misalnya "Pengaruh dosis penyemprotan fungisida X terhadap perkembangan penyakit Y", lebih menarik kata "pengaruh" dihilangkan dengan membuat judul menjadi "Perkembangan penyakit Y yang disemprot dengan berbagai dosis fungisida X". Supaya judul menjadi singkat dan jelas, penggunaan nama ilmiah dalam judul juga sebaiknya dihindari, kecuali memang tidak ada nama umum yang dapat digunakan.

Masih bingung juga? Kalau hanya ingin jadi sarjana sebenarnya tidak perlu sampai terlalu bingung. Klik saja di  SINI bagaimana caranya agar dapat menjadi sarjana tanpa harus bersusah payah menyusun skripsi. Dan masih banyak lagi situs seperti ini lainnya. Pendidikan di negeri ini memang sudah sedemikian ambur adul seiring dengan ambur adulnya bangsa ini dalam berbagai bidang. Hanya saja, saya tidak akan pernah ikut-ikutan mentoleransi keadaan ini. Hal itu mungkin bisa Anda lakukan bila pembimbing skripsinya bukan saya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan ketik komentar pada kotak di bawah ini.

Bila Anda perlu membuat deskripsi tanaman sebagai bagian dari penyusunan proposal penelitian atau skripsi, kunjungi blog Tanaman Kampung atau Tumbuhan Bali, mudah-mudahan bisa membantu.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites